“Diagnosis yang Tidak Pernah Selesai”

1574 Kata
Revan menatap layar komputernya yang kosong. Sudah sepuluh menit ia duduk, tapi tak ada yang bisa ia tuangkan sebagai bahan laporan untuk para pasiennya. Entahlah pikirannya saat jni seakan tak bisa diajak kompromi. Beruntung tak ada pasien di jam ini. Bahkan jika dilihat, di hadapannya saat ini. Layar komputer itu hanya menampilkan lembar kerja kosong. Bukan laporan pasien. Bukan catatan evaluasi. Bukan rencana terapi. Ada hal lain yang mengganggu pikirannya. Seseorang dari masa lalunya yang tak benar-benar selesai. Jelas dia adalah Nayara. Ia bersandar, mengusap wajahnya dengan kedua tangan, dengan napasnya yang terasa berat. Bayangan semalam masih jelas. Rafael yang membawa Nayara masuk ke kliniknya dalam keadaan shock, tubuh gemetar, mata kosong. Luka lebam di lengan, bibir pecah, dan tatapan yang… Oh Tuhan, sejak kapan mantan kekasihnya dalam keadaan tak baik-baik saja itu. Tatapan yang dulu Revan kenal sebagai tatapan gadis yang selalu berusaha kuat, selalu tegas jika dirinya tak bisa mengambil keputusan. Dan bahkan tatapan wanita kuat saat putus dengannya dulu. Kini tak lagi ada. "Apa yang terjadi denganmu, Ara?" Pertanyaan itu yang terus berputar di kepalanya. Dia kenapa? Seberapa dalam lukanya? Kenapa Rafael tidak mau bicara padanya? Revan memejamkan matanya sesaat, mencoba menyusun semua gejala yang sempat ia lihat saat berada dekat dengan Ara tadi. Napas pendek—bukan cemas biasa. Respons minim—bukan sekadar sedih. Tatapan kosong—bukan seseorang yang sedang lelah. Gemetar dan penarikan napas yang tak teratur, bahkan terhenti sesaat—indikasi trauma berat. Tapi trauma apa? Seberapa lama dia hidup dengan itu? Dan… kenapa dia lebih memilih memendamnya sendirian? Tok. Tok. Tok. Ketukan pelan memecah pikirannya. Revan tidak merespons. Ia terlalu larut menatap file kosong di monitor. Hingga pintu terbuka sendiri. “Van?” Suara familiar dari Dimas terdengar, ia melangkah masuk dengan alis naik, menatap Revan dengan tatapan aneh. Rekan sesama dokter di klinik miliknya, dengan rambut sedikit berantakan. Mengambil duuk di hadapannya. “Lo kenapa? Ada yang salah? Kok gue lihat sedari tadi lo ngelamun aja. Ada masalah?" Revan mendengus. “Apaan sih?” “Gue serius.” Dimas mengambil permen yang ada di mangkuk kecil di atas meja Revan. Membukannya dan memasukkannya ke dalam mulut. “Gue tadi ketok tiga kali, lo nggak jawab. Gue kira lo tidur atau apa gitu. Eh... Nggak taunya malah ngelamun.” Revan memutar kursinya, menghadap sahabat sekaligus koleganya dengan lebih jelas. “Gue lagi mikir.” Dimas mengerutkan keningnya. Menelisik wajah Revan yang kembali diam. “Mikir apa?" Revan hanya mengedikkan bahu tanpa ingin bercerita. "Ck, ya udah lah. Gue cuma mau ngingetin, sepuluh menit lagi lo ada pasien konseling. Yang jadwal mingguan itu.” Diman berdecak sekaligus hendak oergi dari tempatnya. Revan memijat pelipis. “Iya, gue inget kok.” Dimas memperhatikan wajah Revan lebih lama. “Hari ini lo aneh banget. Inget, dokter juga manusia biasa. Jangan paksain.” “Iya Dim, gue tau hanya saja. Kenapa kita harus ketemu lagi dikeadaan yang seperti ini.” Revan menghela napas panjang. Dimas langsung berkacak pinggang. “Jangan bilang, lo ketemu sama mantan lo lagi Van?" Revan terdiam. Seperti membenarkan tebakan dari Dimas. Tatapan Dimas membesar. “LO SERIUS? LO KETEMU SAMA MANTAN LO LAGI? DIMANA?" “Di sini,” Revan mengoreksi lelah. “lebih tepatnya dia dibawa kesini.” “Dibawa?? Dibawa siapa? Yang jelas dong Van kalau cerita." “Rafael.” Dimas melongo. “Rafael? Anak Tante Rani? Yang suka sok tenang padahal panikan?” Revan mendesah. “Dia bawa Nayara ke klinik gue… dalam kondisi kacau.” Dimas terdiam seketika. Wajah slengekannya, wajah tengilnya tak lagi nampak. Hanya raut terkejut dan bingung di wajah itu. “Kacau gimana, Van?” Revan menatap kosong ke arah lain. “Mental break. Shock. Gemetar. Lost. Nggak bisa fokus. Kayak… kayak dia udah nggak ada tenaga buat hidup. Kenapa gue harus ketemu Ara yang kayak gitu, Dim?” Dimas tak berkedip. “Lo yakin itu dia? Maksud gue… empat tahun tanpa kabar—” “Gue hafal tatapannya, senyumannya.” jawab Revan cepat. “Sekalipun dia berubah… gue tahu itu Ara.. Gue.” Dimas menahan napas. “Oke. Lalu Rafael nggak cerita apa gitu sama lo?" “Rafael nggak mau cerita.” Revan meletakkan siku di meja, menunduk. “Setiap gue tanya, dia bilang itu bukan haknya buat buka cerita. Dan Ara—dia juga nggak mau bicara apa pun.” Dimas menatapnya lama. “Lo khawatir banget sama dia.” “Jelas gue, khawatir Dim,” Revan menatap kosong. “Dia… pernah jadi seseorang yang gue cintai.” Dimas mendekat, nada suaranya merendah. “Lo masih cinta?” Revan membuang napas panjang. “Gue bahkan belum selesai dengan rasa marah gue ke dia empat tahun lalu. Tapi… ngeliat dia kemarin…” ia meraup wajahnya sedikit kasar. “…gue cuma pengen tahu, ada apa dengan dia.” Dimas paham. Terlihat dari cara ia tidak mengatakan apa-apa. Namun ia mengatakan sesuatu di detik berikutnya. “Lo bisa diagnosis?” Revan menggeleng cepat. “Gue nggak mau diagnosis tanpa data lengkap. Trauma bisa dari banyak hal. Kejadian semalam pasti trigger, tapi bukan akar. Dan gue—” ia terdiam, suara pelan,“…gue takut salah langkah.” Dimas menepuk bahu Revan. “Lo lakukan apa yang bisa lo lakukan sebagai psikiater. Dan sebagai manusia.” Revan mengangguk pelan. Dimas lalu menambahkan, “Dan lo inget ya, sepuluh menit lagi pasien lo dateng. Selesain kerjaan lo dulu sebelum lo menyelamatkan mantan lo.” Revan tidak sempat membalas karena— Tok. Tok. Perawat mengetuk pintu. “Dok, pasien konseling yang sudah ada janji sebelumnya, sudah menunggu.” Dimas melangkah mundur sambil tersenyum kecil. “Kerja dulu, Van. Habis itu, baru kita bahas Nayara lagim kita cari tau sama-sama." Ketika pintu menutup dan Revan berdiri untuk membuka sesi konseling, satu hal masih menggantung dalam benaknya. Bagaimana cara menyembuhkan seseorang yang dulu pergi tanpa pamit— dan kembali sebagai reruntuhan luka yang bahkan dirinya sendiri tidak bisa pahami? --- Nayara duduk di depan layar komputernya sejak sepuluh menit lalu. Kursor berkedip di dokumen kosong, yang seolah mengejeknya. Ia membaca ulang brief yang sama—tiga kali—tanpa benar-benar mencerna apa pun. Kepalanya terasa penuh, tapi kosong. Bising, tapi hampa. Sesekali jarinya menyentuh sudut bibirnya yang masih terasa perih. Lebam itu sudah tertutup concealer, tapi rasa ngilunya tidak bisa disembunyikan. Setiap kali ia menggerakkan rahang, ingatan semalam kembali menyelinap tanpa izin. Dengan napasnya yang semakin lama semakin pendek. Suara mama. Kata-kata yang menusuk. Anak pembawa sial. Nayara menelan ludah, memejam sejenak. “Stop,” gumamnya pelan. “Kerja, Ara. Fokus.” Saat dirinya hendak membuka mata. Kursi di sebelahnya bergeser. “Nay.” Suara itu membuat Nayara refleks menegakkan punggung. Radith berdiri di samping mejanya, satu tangan masuk ke saku celana, dengan ekspresi ragu di wajah itu. Lebih seperti seseorang yang sudah lama ingin bicara, tapi takut melangkah terlalu jauh. Atasannya tak berdiri sedekat ini jika tak penting. Lalu ada apa ini? “Kamu sibuk?” tanyanya hati-hati. Nayara menggeleng cepat. “Nggak, Mas. Lagi baca ulang brief.” Tapi Radith bisa melihat kebohongan kecil itu dari jarak sejauh apa pun. Ia menatapnya lebih lama dari biasanya. Tatapannya turun, berhenti di sudut bibir Nayara. Meski samar, Radith tau ada yang salah di sana. Alis Radith berkerut. “Nay…” panggilnya pelan. “Itu kenapa?” tanyanya tanpa ingin menahannya lagi. Deg. Nayara reflek memalingkan wajah sedikit. “Oh, ini? Kepentok lemari,” jawabnya cepat. Radith tidak langsung menanggapi. Ia menarik kursi kosong, lalu duduk di hadapan Nayara. Tidak menginterogasi. Tidak memaksa. Hanya saja ia ingin hadir di dekat wanita itu. “Kamu yakin?” tanyanya sekali lagi. “Soalnya itu kelihatan bukan lebam biasa.” Nayara tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata. “Mas Radith, aku beneran nggak apa-apa.” Radith menghela napas. Tangannya terangkat, hampir menyentuh luka itu, tapi urung. Tangan itu menggantung di udara. Seperti sadar batas yang tak boleh ia langgar. Sebagai atasan. Sebagai seseorang yang… terlalu peduli. “Kamu tahu,” katanya akhirnya, “kalau kamu lagi nggak baik-baik aja, kamu nggak harus pura-pura kuat di depan aku.” Nayara menunduk. Ia tahu itu. Ia selalu tahu. Tapi ia memilih berpura-pura tak tahu. Radith adalah orang yang paling konsisten berada di dekatnya. Tidak pernah memaksa. Tidak pernah mendesak. Selalu satu langkah di belakang—menunggu Nayara menoleh. Dan justru itu yang membuat Nayara takut. “Mas…” Nayara menarik napas perlahan. “Aku bukan tipe orang yang enak dijadiin sandaran.” Radith tersenyum kecil, getir. “Aku nggak minta kamu menyandar sekarang.” Ia mencondongkan badan sedikit. “Aku cuma pengen tahu… kalau kamu baik-baik aja.” Kata itu membuat d**a Nayara sesak. Baik-baik aja? Sepertinya tidak. Dan memang dirinya tak sedang baik-baik saja. Ia bahkan tidak tahu arti kata itu sekarang. Radith berdiri. Sebelum pergi, tangannya mendarat ringan di kepala Nayara—sebuah gestur kecil yang sudah begitu familiar. Tidak posesif. Tidak menuntut. Hanya perhatian yang tulus. “Siapin diri ya,” ucapnya lembut. “Setengah jam lagi kita diskusi konsep iklan sama tim. Klien besok bukan main-main.” “Iya, Mas.” Radith melangkah pergi. Tak lagi membahasnya. Memilih pergi. Ia tak mau membebani perasaan Nayara saat ini. Nayara menatap punggung pria itu sampai menghilang di balik sekat ruangan. Ada rasa hangat. Tapi juga jarak yang ia ciptakan sendiri. Karena Nayara tahu—jika ia membiarkan siapa pun terlalu dekat, mereka akan melihat retakan yang bahkan ia sendiri takut untuk hadapi. Dan Nayara tidak siap kehilangan siapa pun, hanya karena ia tidak cukup utuh untuk dicintai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN