18

1487 Kata

Pagi itu, RADITH CREATIVE HOUSE sudah mulai sibuk sejak pukul delapan. Aroma kopi hitam bercampur wangi pastry memenuhi ruang kerja yang didominasi warna putih dan kayu. Beberapa staf sibuk di depan layar komputer, sebagian lain mondar-mandir membawa map dan tablet. Nayara duduk di mejanya, membuka laptop dengan ekspresi yang sama seperti hari-hari sebelumnya—tenang, profesional, nyaris tanpa celah. Rambutnya diikat rapi, kemeja polos dengan blazer tipis menempel sempurna di tubuhnya. Tak ada yang bisa menebak bahwa malam sebelumnya ia menangis sendirian di depan Ibunya. Semua itu tertutup dengan makeup yang dikenakan oleh Nayara. Yang sedikit dia tambahkan di bagian pipi dan matanya. Beruntung tak membengkak besar ini mata. Radith keluar dari ruangannya sambil membawa dua gelas kopi.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN