Siang itu, café kecil di sudut Jalan Pahlawan terasa lebih ramai dari biasanya. Aroma kopi dan makanan hangat bercampur dengan suara sendok beradu dan obrolan pelan para pengunjung. Nayara duduk di dekat jendela, punggungnya bersandar santai, sementara jemarinya sesekali memainkan sendok di atas tatakan cangkir. Di seberangnya, Keyza sudah melipat tangan di d**a sejak lima menit lalu. Wajahnya jelas menunjukkan satu emosi yang bercampur jadi satu. Dirinya tak suka menunggu. Apalagi dalam keadaan yang panas dan lapar seperti ini. “Gue sumpahin Rafael kejebak lift,” gumam Keyza sambil melirik jam di pergelangan tangannya untuk ketiga kalinya. “Ini udah lewat dua puluh menit, Nay. Perut gue bunyi semua isinya. Capek makan angin mulu. Kasian cacing di perut gue” Nayara terkekeh pelan, menu

