22

1683 Kata

Satu jam berlalu dengan waktu yang berjalan begitu lambat. Aruna sudah berada di dalam ruang IGD, ditangani oleh rekan-rekan Rafael. Rani duduk di kursi tunggu dengan tangan yang masih menyisakan bekas noda darah yang sudah mengering. Tubuhnya gemetar hebat. Tak menyangka dengan apa yang telah ia lalui beberapa jam yang lalu. Rafael menghampiri mamanya, memberikan sebotol air mineral. Berharap mamanya bisa sedikit lebih tenang. "Tante Aruna sudah stabil, Ma. Untungnya luka itu nggak mengenai arteri besar, tapi dia kehilangan banyak darah." Rani menengadah, matanya sembab. Masih ada gurat ketakutan di wajah yang masih cantik itu. "Kenapa, Raf? Padahal semalam Ara cerita kalau ibunya tenang banget. Kenapa tiba-tiba begini?" Rafael menghela napas berat, duduk di samping mamanya. "Itu sifa

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN