21

1729 Kata

Revan mendorong pintu kliniknya dengan langkah ringan. Aneh. Bahkan langkahnya sendiri terasa berbeda hari ini. Biasanya ia datang dengan wajah datar khas seorang psikiater yang sudah kebal dengan rutinitas, tapi sore ini—entah kenapa—sudut bibirnya seperti sulit berhenti membentuk senyum tipis. Kenangan demi kenangan baru mulai Revan rajut lagi. Satu yang dia yakini saat ini. Dirinya tak akan lagi menyia-nyiakan waktu yang dulu pernah terbuang begitu saja. Ia menyapa resepsionis dengan anggukan ramah, lalu berjalan menuju ruang kerjanya. Suasana itu sedikit membuat para perawat lain mengernyit heran. Mereka tau jika dokternya itu ramah tapi juga cukup dingin. Tapi hari ini? Di sisi lain lorong, Dimas yang baru saja selesai berbicara dengan salah satu perawat langsung berhenti melangk

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN