“Kau ingin mempermainkanku lagi?” bisik Jourell, berdiri diantara kebahagiaan tiada tara namun terhimpit trauma masa lalu. Wajahnya begitu dekat dengan Letizia, aroma permen manis menguar membuat desiran halus hadir pada darah. “Apa aku seperti orang yang suka mempermainkan perasaan?” Letizia menjawab lirih namun matanya menyiratkan segalanya. Jourell terpaku dengan mata indah itu tanpa bisa membantah, alih-alih membuka mulut untuk berbicara seluruh tenaganya seperti terhisap oleh ketulusan Letizia. Di saat semua wanita harusnya malu punya pria yang miskin, Letizia justru berbeda. Wanita itu begitu bangga meski ia tidak punya apa pun. Jourell merasa malu sekali telah membuat wanita ini bekerja keras. “Ada yang ingin aku katakan padamu," kata Jourell, mengulurkan tangan merapikan sulu

