Jourell merenungkan perkataan Letizia, tatapan sendu dari mata jernih itu tak bisa ia hindarkan. Ia yang semula berbaring telentang merubah posisinya menjadi miring, berhadapan dengan Letizia dengan jarak yang hanya beberapa jengkal. Keraguan dalam hati memudar begitu saja, berganti dengan perasaan takut yang tiba-tiba hadir. “Apa yang aku katakan benar bukan?” Letizia melanjutkan ucapannya, ia meraih tangan Jourell untuk digenggam. “Lagipula aku hanya ingin bercerita kepada suamiku, apa yang salah?” Jourell mengedipkan mata sekilas lalu mengulas senyum tipis, ia harus tenang dulu. Genggaman itu ia balas, satu tangannya lagi ia ulurkan kepada Letizia. Wanita itu tersenyum, membuang bantal yang tadi dipakai kemudian bersandar pada lengan Jourell seraya merapatkan tubuhnya. “Lanjutkan ce

