“Cintamu bukan dermaga tempatku pulang, melainkan palung terdalam yang menenggelamkan napasku tanpa permisi." — Letizia Tanuwijaya __________ Pagi menyapa kediaman Atmajaya dengan kabut tipis yang menyelimuti taman belakang. Sinar matahari yang menembus jendela kamar utama tampak ragu-ragu, seolah tahu bahwa atmosfer di dalam ruangan itu masih pekat oleh sisa badai semalam. Letizia terbangun dengan perasaan berat di dadanya. Hal pertama yang ia rasakan adalah perih di lehernya bekas klaim posesif Jourell semalam. Ia menatap langit-langit kamar, mencoba menepis bayangan Jourell yang berteriak di depannya. "Aku mencarinya di balik terang, tapi yang kutemukan justru kegelapan yang tak berujung. Dia ingin aku patuh, dia ingin aku berhenti bertanya, dan dia ingin aku mencintai monster yang

