Atmosfer di ruang kerja pribadi Jourell terasa seperti tengah malam yang mencekam. Bau keringat, asap rokok, dan aroma mesiu yang masih menempel di jaket Wilder dan Jasson memenuhi ruangan kedap suara itu. Jourell berdiri mematung di tengah ruangan. Wajahnya sedingin es, namun matanya yang tajam menyapu setiap inci tubuh adiknya, Jasson, dan Wilder. Mereka baru saja menyelinap masuk melalui pintu belakang untuk menghindari kecurigaan. Xander pun telah bergabung, ia berdiri di dekat jendela besar yang tertutup tirai rapat. Tangannya mengepal di belakang punggung. Rahangnya mengeras, tatapannya menghunus tepat ke arah Jourell. "Melibatkan Wilder ke dalam rumah ini?" suara Xander rendah, namun bergetar karena amarah. Jourell tidak bergeming. Ia tidak membela diri. "Jika aku menggunakan o

