Suara baling-baling helikopter yang memekakkan telinga seolah menjadi satu-satunya melodi di tengah keheningan yang mencekam di dalam kabin medis yang sempit itu. Udara terasa tipis, bercampur bau antiseptik yang tajam dan aroma besi yang menyengat. Di sana, di tengah tumpukan alat medis yang berkedip dan berbunyi ritmis, Jourell terbaring kaku. Letizia bersimpuh di lantai kabin yang bergetar. Tangannya tidak sedetik pun melepas tangan kanan Jourell. Jemari yang biasanya terasa hangat dan mendominasi itu kini terasa seperti porselen dingin yang bisa retak kapan saja. Letizia terus menggosok telapak tangan itu, mencoba membagikan suhu tubuhnya sendiri yang sebenarnya juga sudah mulai mendingin karena syok. "Tolong, Dok... darahnya masih keluar," bisik Letizia parau. Dokter Miller, kepala

