Sepanjang perjalanan, Letizia hanya bisa meremas tali tasnya dengan jemari yang mendingin. Ia merasa terkurung di dalam kabin mewah McLaren 720S milik Jourell yang aromanya didominasi wangi kulit premium dan parfum maskulin suaminya. Mobil sport dengan ground clearance rendah itu seolah merayap di aspal, membelah jalanan dengan raungan mesin V8 yang halus namun mengancam, persis seperti pria yang sedang duduk di balik kemudi di sampingnya. Letizia melirik samping wajah Jourell yang tenang. Resah mulai menggerogoti dadanya. Ia bukan tidak suka kemewahan ini, ia hanya takut pada label yang akan disematkan padanya nanti. “Nanti turunkan aku di halte saja," ucap Letizia, suaranya sedikit bergetar. Mata Jourell melirik sekilas, sudut bibirnya berkerut samar. “Kenapa?” Letizia mengembuskan

