Dalam tidurnya yang tidak nyenyak, Letizia merasa dunia berubah menjadi merah pekat. Bau amis logam menyerbu indra penciumannya. Ia berdiri di tengah dermaga yang dingin, dan di depannya, Jourell berjalan mendekat. Pria itu tersenyum manis, senyum yang selalu membuat Letizia merasa aman. Jourell mengulurkan tangannya, ingin membelai pipi Letizia seperti yang biasa ia lakukan setiap pagi. Namun, saat telapak tangan itu menyentuh kulit wajah Letizia, yang terasa bukanlah kehangatan, melainkan cairan kental yang panas. Letizia menunduk dan berteriak tanpa suara. Tangan Jourell berlumuran darah segar yang terus mengalir, membasahi gaun putih Letizia hingga merah merata. Di belakang Jourell, sosok ayahnya berdiri dengan kepala yang hancur, menunjuk ke arah Jourell sambil berbisik. "Naga Mera

