Jourell membeku, tangan yang tadinya terulur kini jatuh terkulai di samping tubuhnya. Kata-kata itu lebih tajam dari peluru mana pun yang pernah menembus kulitnya. Ia ingin membela diri, ingin mengatakan bahwa semua itu salah paham. Apa bedanya? Tangannya mungkin tidak berlumuran darah secara fisik saat itu, tapi perintahnya, ambisinya, dan kekuasaannya adalah mesin yang menggiling hidup Letizia hingga hancur. Ia menatap kehampaan di mata Letizia. “Jadi, ini hukumanku?" Pertanyaan itu hanya dibalas oleh keheningan yang mencekik. Letizia memalingkan wajah, menatap tembok putih rumah sakit yang tampak seperti nisan besar baginya. Ceklek. Pintu kamar terbuka pelan. Serena masuk dengan langkah ragu. Wajahnya pucat, matanya sembap. Di tangannya ada nampan berisi makanan hangat yang aroman

