“Naga merah!” Letizia berseru, suaranya cukup keras membuat Jourell menatapnya lebih intens. ”Kenapa, Zia?” tanya Jourell, suaranya lembut tanpa penghakiman. Letizia membuka mulutnya hendak menjawab, ia sibuk mengumpulkan kepingan-kepingan kenangan masa lalu akan ucapan Papanya serta ucapan Jourell barusan. Atmajaya, naga merah. Keduanya jelas saling berhubungan, tapi Letizia bingung kenapa ia seperti pernah mendengar kata-kata itu sebelumnya. Mata Letizia bergulir cepat memandang Jourell, ia kembali teringat akan ucapan pria ini kemarin. “Apa benar dia seorang Atmajaya? Jika iya, kenapa aku merasa kecewa seperti ini?” batin Letizia berkecamuk. “Zia.” Jourell menggoyangkan genggaman tangannya, menarik perhatian Letizia kembali. “Ah tidak, aku kebelet pipis. Mau mandi sekalian deh

