Ruang bawah tanah itu dingin dan berbau karat. Di tengah ruangan, seorang pria terikat di kursi besi, wajahnya sudah tidak berbentuk akibat hantaman demi hantaman. Wilder duduk santai di atas meja kayu di sudut ruangan. Ia melonggarkan dasinya, membiarkan dua kancing teratas kemeja putihnya terbuka. Rambutnya sedikit berantakan, dan ada noda darah kering di pelipisnya. Di tangannya, ia memutar-mutar sebuah pisau lipat kecil dengan gerakan malas, seolah benda tajam itu hanyalah mainan belaka. "Sudah kubilang, Jasson... jangan dipukul di bagian rahang kalau kau masih ingin dia bicara," Wilder berujar datar, matanya menatap langit-langit dengan bosan. Jasson berdiri di depan sang tawanan, napasnya memburu. Tangannya yang dibalut handwrap sudah memerah karena darah. Ia menoleh ke arah Wilde

