Jourell terdiam cukup lama. Genggamannya pada tangan Letizia mengeras, tapi bukan karena marah, melainkan karena ia sedang menekan gejolak di dadanya. Ia menatap ke arah langit malam, menghindari tatapan tulus Letizia yang seolah menguliti jiwanya. "Aku menemukannya, Zia," ucap Jourell rendah. Suaranya terdengar seperti gesekan logam, dingin dan berat. Mata Letizia membulat. "Benarkah? Di mana, Jourell? Mana benda itu?" Jourell menoleh, menatap Letizia dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada penyesalan, tapi ada juga kegelapan di sana. "Sudah hancur. Chip-nya patah, mungkin karena penggeledahan paksa orang-orang Kenji. Aku hanya sempat melihat potongan data yang rusak sebelum benda itu benar-benar mati." Letizia lemas. Bahunya merosot. "Jadi... tidak ada harapan lagi? Kau tidak meliha

