Pras hanya menggeleng pasrah, ketika Sinar kembali menempatkan tubuhnya di pangkuan begitu mereka tiba di rumah. “Kamu beneran capek?” tanya Pras terus memasuki rumah, tanpa peduli dengan pandangan para pekerja yang berada di sana. Istrinya itu benar-benar penuh kejutan dan tidak bisa ditebak. “Lagi malas jalan atau sebenarnya betah ada di pangkuanku?” “Semuanya.” Sinar mengendik bahu dengan santai. “Badanku pegel, perut juga nggak enak. Tamu bulananku mau datang kayaknya.” “Kayaknya?” Pras sedikit memperlambat kursi rodanya, ketika mereka memasuki lorong penghubung menuju rumah belakang. “Kamu nggak pernah catat tanggalnya atau memang lupa?” “Habis lahiran Aya, haidku jadi nggak teratur. Maju mundur nggak jelas.” “Sudah periksa?” “Dulu pernah. Kata dokter cuma karena stres.” Pras

