Kembali, Sinar tidak memedulikan Pras setelah sarapan selesai dan seluruh keluarga berpencar dengan kesibukannya masing-masing. Hatinya masih terlampau sakit, karena sikap otoriter Pras di hari ulang tahun Asa dan Aya. Sinar sadar ia salah, tetapi tetap saja rasa sakit di hatinya belum bisa hilang begitu saja. “Nar!” panggil Wati menghampiri Sinar sambil menggendong Aya. “Pak Bintang tadi bilang, dia mau bawa Aya nginep di rumah minggu depan. Hari sabtu, malam minggu.” Sinar yang sedang mengaduk s**u cokelatnya terdiam seketika. Ini kali pertama Bintang meminta izin untuk membawa putrinya bermalam bersama. Namun, akan bermalam di tempat siapa? “Di rumah papanya Aya atau neneknya?” tanya Sinar memastikan. Ia tidak mungkin melarang, karena Aya sudah berusia satu tahun. Gadis kecilnya s

