Hening. Sejak Sinar memasuki mobil Pras, tidak ada percakapan yang terjadi di dalamnya. Sinar sibuk dengan pikirannya sendiri dan mengingat-ingat pesan Arkan pada waktu itu. Karena itu, Sinar harus bisa mengendalikan emosi dan menurunkan egonya. Benar-benar bersabar, demi kedamaian dirinya sendiri. Sebenarnya, Sinar bisa saja menolak memasuki mobil Pras. Namun, ia tidak ingin menanggung resikonya jika menolak perintah dari pria itu. “Ada urusan apa sama mami?” tanya Pras akhirnya membuka suara, tanpa menatap Sinar. “Emm, itu …” Sinar meremas erat sisi tas laptop di pangkuan. “Tante Eila ngajak bikin toko roti.” “Dan apa jawabanmu?” “Masih pikir-pikir.” “Kenapa?” Sinar membuang napas besar. Berusaha menjaga ucapan yang akan keluar dari mulutnya. Kesabarannya benar-benar diuji. “A

