Dengan tubuh yang masih saja bergetar, Sinar mondar-mandir di depan ruang operasi. Setiap langkahnya dipenuhi kecemasan yang menumpuk. Tidak kunjung mereda, seperti lampu di atas pintu ruang operasi yang terus menyala tanpa kepastian. “Nar …” Sinar menoleh cepat. Tanpa ragu, tubuhnya menghambur ke pelukan Elo yang berlari menghampiri dengan wajah panik. “Asa di mana?” Sinar mengurai pelukannya. “Sama Pak Harsa … Ta-tadi masih di IGD, tapi nggak ada yang serius.” Helaan lega keluar dari mulut Elo. “Gimana kro–” “Je!” Bima menyusul beberapa saat kemudian. Napasnya berat, ngos-ngosan seperti Elo. “Pras?” “A-aku nggak ngerti, Bim.” Suara Sinar bergetar, kemudian menatap Elo. “Mas … titip Asa, ya? Aku … aku–” “Ssshhh …” Elo menyela dan kembali memeluk Sinar, lebih erat. Ia paham, wanit

