“Tante, maaf kalau saya ngerepotin lagi,” ucap Sinar sebelum Eila membuka suara. Ia memang sudah membicarakan beberapa hal melalui telepon, tetapi tetap saja Sinar ingin memastikan semuanya. “Tapi, saya harap Tante nggak berubah pikiran.” Eila tersenyum kecil. Menunduk dan melepas gandengan Asa dari Sinar. “Mungkin bukan Tante yang berubah pikiran, tapi kamu. Pras itu makin keras kepala, jadi, kamu harus siap-siap makan hati kalau ngadapin dia.” “Saya sudah yakin.” Sinar mengangguk mantap. “Nggak akan berubah pikiran.” “Kalau begitu, ikut Tante ke belakang,” ajak Eila kemudian menggendong Asa. “Aya nggak diajak?” “Enggak.” Sinar menggeleng sambil mengeluarkan sebuah wadah plastik dari tas yang dibawanya. “Ada papanya ke rumah. Jadi–” “Aaasa!” Kaisar tersenyum lebar saat melihat Asa di

