“Kamu ngomong apa sama bu Aster?” tanya Sinar setelah memasuki ruangannya bersama Pras. “Kenapa dia mendadak pergi?” Melihat Pras dan Sinar ada di ruangan, Wati pun segera berpamitan ke luar. Meninggalkan Aya masih tidur nyenyak di kasurnya. “Bukan urusanmu.” Sinar berdecak kesal. Kendati sangat penasaran, tetapi ia tidak bisa memaksa Pras untuk bercerita. “Terus ngapain kamu ke sini? Bukannya pak Arkan yang diutus jemput?” “Kenapa ke sini naik taksi?” tanya Pras mengabaikan pertanyaan Sinar. “Aku yakin mobilku nggak ada bermasalah.” Sinar menghempas tubuhnya di kursi kerja. “Aku lagi nggak bisa nyetir tadi pagi. Lagi banyak masalah.” “Uang?” Sinar kembali berdecak. Kali ini lebih keras. “Nggak semua masalah itu karena uang, Pras.” “Kalau begitu jelaskan.” “Ihh! Sejak kapan aku

