Sinar terbatuk keras, memuntahkan air yang sempat tertelan saat Bima selesai melakukan kompresi d**a dan napas buatan. Bibirnya yang semula membiru mulai berangsur pulih, rona pucat di wajahnya perlahan menghangat. Suasana yang semula diliputi kepanikan, sontak berubah jadi kelegaan. Napas panjang terdengar dari semua yang menyaksikan, seolah baru saja dilepaskan dari mimpi buruk. Lega. “Haaah … b**o banget, sih, lo!” hardik Bima, menepuk pelan pipi Sinar. Antara kesal, panik, dan masih syok oleh ketakutan akan kehilangan wanita itu. Saat mendengar suara Pras berteriak, Bima tahu ada yang salah. Terlebih ketika ia tidak melihat Sinar berada di tempatnya. Bima segera berlari keluar, menatap kolam renang, dan langsung melompat ke dalamnya tanpa pikir panjang. “Lo itu nggak bisa berena

