Empat bulan berlalu sejak keberangkatan Pras ke Singapura. Pria itu telah menjalani operasi besar dan berbagai sesi terapi intensif. Setiap panggilan video yang mereka lakukan, selalu saja diwarnai perdebatan yang tak kunjung reda. Sesekali mereka juga tertawa atau hanya saling menatap tanpa kata. Meski begitu, Sinar tahu ada kelelahan yang tidak pernah terucap dari mulut sang suami. Pagi itu, bandara terasa begitu ramai. Sinar berdiri tidak jauh dari pintu kedatangan, kedua tangannya meremas tali tas kecil yang ia bawa. Jantungnya berdegup kencang, menanti sosok yang selama ini hanya bisa ia lihat lewat layar ponsel. Dan akhirnya, Sinar melihatnya. Pras muncul dengan kursi roda yang didorong oleh petugas bandara. Rambutnya sedikit lebih panjang, dari terakhir kali ia pergi. Wajahnya

