“Maaf, ya.” Sinar meringis penuh penyesalan. Niat baiknya untuk tidur berempat tadi malam, berujung ricuh. Bagaimana tidak? Asa tidur seperti ninja kecil. Bergerak lincah ke sana kemari. Entah sudah berapa tendangan dan pukulan yang diterima oleh Pras tadi malam. Sementara itu, Aya justru tidur dengan lelap tanpa peduli kekacauan yang ada di sekitarnya. “Aku hampir lupa rasanya tidur nyenyak,” sahut Pras setelah menguap untuk yang ke sekian kalinya. “Nggak lagi-lagi bawa Asa tidur di kamar.” “Ya, nggak papa,” ujar Sinar sambil menutup tas kecil yang berisi seluruh dokumen milik Pras. “Tapi, nanti biar dia tidur di kasur sendiri. Nggak usah bareng-bareng kayak tadi malam.” “Padahal ranjangnya dua, tapi dia mutar ke mana-mana.” “Iya, iya, maaf.” Sinar menunduk lalu mengecup pipi Pras.

