Jafran mulai dengan lembut melepaskan pakaian Zumena, satu per satu, bukan dengan gairah yang tergesa-gesa, melainkan dengan pemujaan yang lambat dan penuh makna. Setiap sentuhan tangannya adalah sebuah janji yang tak terucapkan, sebuah pengakuan bahwa ia mencintai setiap luka dan setiap kemenangan yang diwakili oleh tubuh ini. Zumena balas menyentuh Jafran, melepaskan dasinya, kemudian kemejanya. Dia merasakan kehangatan dan kekuatan luar biasa dari otot-ototnya yang kokoh. Ini adalah kekuatan yang ia tahu tidak akan pernah digunakan untuk menyakitinya, melainkan untuk melindunginya. Sentuhan bibir mereka menjadi semakin dalam, sebuah percakapan tanpa kata yang merangkum semua yang telah mereka lalui. Zumena memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam perasaan aman yang luar bia

