Zumena menghabiskan beberapa jam terakhir sebelum fajar dengan meditasi. Dia duduk di kursi rotan, memandang ke luar jendela. Kabut tebal Puncak mulai turun, menyelimuti pepohonan pinus, membuatnya terlihat seperti hutan peri yang sunyi. Keheningan itu adalah penyembuhan. Di Jakarta, ia akan mendengar dengungan lalu lintas dan suara klakson, simbol kesibukan yang dingin. Di sini, ia hanya mendengar desau angin dan gemerisik daun pinus, suara-suara alam yang tenang. Dia mengenakan gaun pengantinnya yang sederhana, terbuat dari sutra putih polos, seperti yang ia minta. Tidak ada manik-manik, tidak ada hiasan berlian yang mencolok. Gaun itu terasa ringan, tidak membatasi, simbol sempurna dari kebebasan yang kini ia nikmati. Dia menolak riasan tebal; wajahnya harus menunjukkan kejujuran, bah

