Ketenangan di benteng Abimana, setelah empat puluh hari badai kekacauan yang manis, bukanlah sesuatu yang Jafran atau Zumena harapkan. Kedamaian itu, anehnya, dibawa oleh kedatangan Kamelia Abimana, ibu Jafran, yang tiba dengan aura efisiensi kuno dan kehangatan nenek yang tak terbantahkan. Kamelia, seorang wanita yang menyeimbangkan antara d******i sosial dan naluri keibuan yang kuat, segera mengambil alih. "Kalian terlihat seperti baru pulang dari perang yang tidak kalian menangkan," Kamelia berkomentar tajam, tetapi matanya penuh kasih sayang saat ia mengamati wajah lelah Jafran dan Zumena. "Aku menjaga cucuku malam ini. Kalian berdua akan pergi keluar. Sekarang juga. Jangan membantah, Jafran. Aku membesarkanmu, aku tahu bagaimana cara menghadapi ego yang terlalu besar dan popok yang

