Menerima Lamaran.

1009 Kata

Zumena menangis. Air mata mengalir deras di pipinya, tetapi air mata ini adalah air mata kebahagiaan yang meluap-luap, air mata yang membasuh semua sisa-sisa kepedihan. Dia melihat Jafran, pria yang telah mengorbankan begitu banyak hal untuknya, pria yang rela berlutut di hadapannya, pria yang bersedia menunjukkan kerentanan terbesarnya. Dia melihat bukan lagi Jafran Abimana Group, tetapi Jafran, belahan jiwanya. "Ya," Zumena berbisik, suaranya serak karena emosi. "Ya, Jafran. Aku mau. Aku mau menjadi istrimu. Aku mau menjadi Ratu yang utuh, di sisimu." Jafran tersenyum, senyum tulus yang membebaskan, senyum yang Zumena yakini adalah yang paling indah di dunia. Dia menyelipkan cincin itu di jari Zumena. Cincin itu terasa ringan, tetapi janjinya terasa sangat berat dan nyata. Jafran ban

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN