Empat puluh hari telah berlalu sejak tangisan pertama pewaris Abimana memecah keheningan di benteng Jakarta. Empat puluh hari puasa, bukan dari makanan atau kekuasaan, melainkan dari keintiman fisik yang menjadi fondasi hubungan Jafran dan Zumena. Jafran Abimana, Sang Maestro Kontrol, telah menjalankan perintah dokter dengan presisi yang brutal, menahan diri di ambang batas hasrat yang mendidih. Ia tidur memeluk Zumena setiap malam, tangannya protektif di perut Zumena, tetapi ia tidak pernah melangkah lebih jauh, menjadikan setiap malam sebagai penyiksaan yang manis. Ketegangan itu terasa tebal dan nyata, sebuah lapisan energi yang melingkupi mereka, tersembunyi di balik senyum lelah dari peran orang tua baru. Malam itu, Zumena kembali dari pemeriksaan terakhir dengan senyum yang tahu s

