Sarah terpaku mendengar nada dingin dari Ara, tapi bukannya dia mengerti dengan perasaan putrinya, yang ada dia malah semakin berang karenanya. “Kamu usir Ibu, IYA?” bentak Sarah sambil meraih bahu Ara dengan geram, membuat perempuan muda itu akhirnya terpaksa menoleh padanya. “Sakit, Bu!” seru Ara dengan suara tercekat menahan tangis. Sarah sama sekali tak terusik dengan wajah Ara yang seolah memelas ingin disayang itu, dia malah semakin kesal. “Kamu kalau nggak mau Ibu kasar, harus ngerti, dong. Masih marah aja begini kayak anak kecil!” omel Sarah. Ara diam tak menjawab, namun wajahnya merah padam serta bahunya turun naik menahan emosi. “Ibu pergi saja, aku mau tidur, capek!” tukas Ara seraya memalingkan wajahnya dan kembali tidur. Sarah pun menggeram karenanya, dia buka mulut hen

