Daylon kembali membawakan segelas kopi dan makanan instan untuk Zalikha. Hugo juga datang lagi ke sana, hanya saja dia memilih membiarkan pamannya untuk tiba lebih dulu, setelah ketegangan yang sempat terjadi di antara mereka. “Makanlah dulu, kamu juga belum sarapan kan tadi!” kata Daylon. “Iya, Mas, tapi kamu juga sama ‘kan. Tadi buru-buru kemari dan nggak sempat sarapan juga!” imbuh Zalikha. Daylon mengangguk sambil menyentuh pipi Zalikha dengan sayang. Hugo yang juga ada di situ, terlihat mengalihkan pandangannya ke arah lain dengan gerakan halus. “Kamu duluan yang makan, jangan buru-buru. Kan masih ada Ibu Sarah juga yang menjaga ayah!” kata Daylon seraya menoleh pada Sarah yang duduk di samping ranjang Aksa. “Iya, ‘kan, Bu?” tanya Daylon tersenyum, namun sorot matanya seolah men

