Sebelum jam makan malam, Hugo memang sudah kembali ke rumah. Tak lupa dia membawa jajanan cemilan yang dibelinya di supermarket sesuai pesanan Ara. Istrinya itu pun gembira menerimanya. “Makasih banyak, Mas!” ucap Ara, sedetik kemudian pipinya bersemu merah karena sudah kelepasan memanggil Hugo dengan sebutan Mas. Hugo hanya terkekeh saja menanggapinya, hanya saja matanya melihat jika wajah Ara sedikit sembab seperti habis menangis. “Kamu habis nangis? Kenapa? Kan aku nggak keluyuran lagi, Sayang!” tukasnya. Senyum di wajah Ara sedikit meredup, dia menggeleng. “Nggak, bukan karena kamu, kok!” jawab Ara dengan wajah tertunduk. Hugo mengangkat alis, sepertinya Ara memang habis bertengkar dengan Sarah. Dia tertawa dalam hati karenanya. “Kamu bertengkar lagi sama ibu, ya?” ujarnya seray

