Daylon tersenyum santai alu menoleh pada Zalikha, meraih tangannya dan menciumnya dengan mesra. “Tubuhnya adalah miliknya, jadi dialah yang akan menentukan akan hamil atau tidak. Aku menghormati keputusannya dan tidak akan memaksakan hendak, hanya karena ingin menuruti desakan orang lain untuk segera mempunyai keturunan!” tuturnya. Aksa tersenyum lebar mendengarnya, puas dengan jawaban Daylon. Sementara Sarah dan Ara hanya bisa saling melempar pandang, merasa kikuk dengan jawaban Daylon. “Iya, ‘kan, Sayang?” ucap Daylon pada Zalikha. Zalikha pun tersenyum menjawabnya seraya mengangguk membenarkan. Dalam hati dia kembali dilanda kebingungan memikirkan kondisinya beberapa hari ini. “Ya, itu bagus. Tapi alangkah baiknya jika jangan menunda-nunda lagi, selain karena kondisi finansial ya

