38. Semakin Rumit

1426 Kata

Bima berdiri di depan mobil hitam yang berkilap, debu-debu bengkel masih menempel di sepatu kerjanya yang usang. Ketika kaca jendela belakang perlahan turun, napasnya tertahan. Dadanya berdegup kencang, bersiap menghadapi amarah, teguran, atau bahkan perintah untuk menjauhi cucunya. Namun yang dia lihat justru wajah Ardha yang tenang, bahkan dengan senyum tipis yang hangat tersungging di bibirnya. "Apa aku mengganggu pekerjaanmu, Bima?" Suara Ardha terdengar datar, tanpa beban, tanpa nada mengancam. Bima menggeleng perlahan, masih terdiam sejenak. "Tidak, Kek. Ada yang bisa saya bantu?” "Ikutlah denganku sebentar. Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu." Bima menatap Ardha lebih dalam, mencari tanda kemarahan atau kekecewaan di balik kerutan wajahnya. Tapi tak ada. Hanya ketenangan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN