Calista duduk di tepi ranjang memeluk bantal, ponsel menempel di telinganya. Suaranya terdengar kecil dan ragu. "Tadi ... waktu dia telepon, aku yang angkat. Langsung dimatikan. Aku kira itu Rita, eh, ternyata anaknya." "Terus? Bima marah?" tanya Zoya dari seberang, suaranya jelas penuh keingintahuan. "Enggak, sih. Dia sama sekali tidak marah. Cuma ... aku sendiri yang merasa bersalah," jawab Calista, jari-jarinya yang bebas menarik-narik ujung sarung bantal. "Ya udah, kalau dia enggak marah, artinya baik-baik saja, kan." "Tapi ... dia belum cerita ke siapa-siapa kalau kami sekarang bersama lagi, Zoy." Dari seberang, terdengar helaan napas Zoya yang panjang dan berat, diikuti oleh keheningan sejenak. "Serius, Ly, susah banget sekarang buat nasihatin kamu. Beneran, capek." "Maaf kalau

