Calista terdiam membeku. Udara di ruangan itu terasa padat dan susah dihirup. Vivi masih menatapnya, menunggu, sementara pengakuan tanpa kata sudah tergambar jelas dari percakapan yang mereka dengar tadi. "Ly," panggil Vivi lagi, suaranya lebih keras, meminta konfirmasi. "Ya." Akhirnya Calista menjawab, suaranya datar namun jernih. "Aku menikahi suaminya Rita." Vivi menggeleng pelan, mulutnya sedikit terbuka seperti tersedak kata. Nilam, yang selama ini memandang Calista dengan hormat, kini menundukkan kepalanya, matanya menatap lantai seolah tak tahan melihat bosnya. "Aku punya alasan melakukan ini." Calista melanjutkan, mencoba menjelaskan meski suaranya tak lagi sekokoh biasa. "Meski aku tahu ... ini adalah kesalahan." "Apa pun alasannya, Ly, ini tetaplah salah," sergah Vivi, tanga

