184. Kangen

1719 Kata

Bima melirik ke arah meja administrasi di pojok bengkel. Indri duduk di sana dengan satu kaki digerak-gerakkan, di telinganya tersumpal headset, tangannya sesekali mengetik sesuatu di komputer. Senyum mengembang di wajahnya, senyum yang tidak biasa, senyum yang membuat Bima mengerutkan dahi. Pacar. Dia membuang napas kasar, menggeleng, lalu kembali membenamkan diri di kap mobil yang sedang diperbaiki. Tapi pikirannya tidak bisa sepenuhnya fokus. Siapa pria itu? Kenapa adiknya begitu ... berbeda akhir-akhir ini? Di meja administrasi, Indri masih asyik dengan panggilan teleponnya. Suara Nisa di seberang terdengar cempreng, penasaran seperti biasa. "Ayolah, kenalin gue, Indri." Nisa merengek. "Gue penasaran banget sama om-om lo." Indri menahan tawa. "Kapan, ya?" Dia memainkan pulpen di t

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN