183. Dibuat Penasaran

1879 Kata

Mobil berhenti dengan mulus di pelataran lobi apartemen. Nathan mematikan mesin, lalu menoleh ke arah Indri. "Om enggak usah naik." Indri mewanti-wanti, tangannya sudah di gagang pintu. Nathan tersenyum. "Iya, enggak." Dia meraih sabuk pengaman Indri, membantu melepaskannya. Wajahnya hanya beberapa inci dari wajah Indri, dan dia menatapnya lama, terlalu lama. Tatapannya hangat, penuh arti. Indri tersipu. Pipinya merona. Tapi dia cepat-cepat memasang ekspresi judes, mengalihkan rasa malunya. "Kenapa sih, lihatin aku terus?" Ekspresinya cemberut, tapi matanya berbinar. Nathan tertawa kecil. "Kamu gemesin banget, Sayang." Dia menggeleng, masih menatapnya. "Pengen cium terus." "Om m***m, ih!" Indri mencubit lengan Nathan. Cubitan kecil, tidak sakit. Tapi Nathan pura-pura kesakitan, lalu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN