155. Mungkin Sudah Takdirnya

1970 Kata

Ardha duduk di kursi malasnya dengan tenang, matanya yang tua namun masih tajam mengamati Natasha yang duduk di samping Nathan. Senyum tipis mengembang di bibirnya, senyum yang jarang terlihat akhir-akhir ini. Dia menatap putra angkatnya, lalu wanita di sampingnya, dan untuk sesaat, masa lalu yang kelabu seolah memudar. "Akhirnya Papa bisa melihat kalian bersama lagi," ucap Ardha, suaranya parau tapi penuh arti. Calista yang duduk di sofa sebelah Bima, langsung mengerutkan kening. Matanya beralih dari kakeknya ke Nathan, lalu ke Natasha. Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya. "Kakek pernah melihat mereka bersama?" tanyanya, suaranya berusaha tenang tapi ada nada curiga yang tidak bisa disembunyikan. Ardha menoleh padanya, masih dengan senyum yang sama. "Waktu itu Natasha pernah datang

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN