156. Keraguan

1803 Kata

"Sekarang? Aku belum bilang sama Sisi. Oke, aku akan tanya anaknya, nanti aku hubungi lagi." Pagi di apartemen masih sunyi, hanya suara samar kendaraan dari jauh yang sesekali terdengar. Bima baru saja menutup panggilan telepon, ponselnya diletakkan di nakas dengan gerakan lambat. Dia menghela napas panjang, bukan lelah, tapi lebih seperti menata hati. Sebuah usapan lembut di punggung telanjangnya. Hangat. Dia menoleh, melihat Calista yang sudah terbangun, tersenyum dengan rambutnya yang berantakan dan kaus besar yang sama seperti semalam. Matanya masih sedikit sembab, tapi senyumnya lembut. Bima meraih tangan istrinya, mencium punggungnya pelan. "Rita mau ajak Sisi jalan-jalan hari ini." Suaranya rendah, masih mengandung sisa-sisa percakapan tadi. "Dia mau ... akrabin Sisi ke calonnya

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN