Bima baru saja meletakkan kunci pasnya ketika ponselnya berdering, panggilan video dari Sisi. Wajahnya yang lelah langsung cerah saat dia mengangkat panggilan tersebut. Di layar, putrinya tersenyum lebar, duduk bersebelahan dengan rumah boneka baru yang persis sama dengan yang sebelumnya. "Ayah, terima kasih! Rumah bonekanya mirip banget kayak yang kemarin!" seru Sisi, suaranya riang menggema di bengkel yang bising. Bima membalas senyum, meski di dalam hati ada keraguan yang menggelitik. "Suka?" tanyanya, berusaha terdengar natural. "Suka banget! Makasih, Ayah sayang." "Sama-sama, Sayang. Sudah tidak marahan lagi sama Bunda, kan?" "Nggak, dong, soalnya kan sudah ada yang baru." "Pintar. Jangan diabaikan lagi Bundanya, ya." "Iya, Ayah." Bima mengakhiri panggilan dengan perasaan camp

