Calista duduk di tepi ranjang, cahaya lampu tidur yang temaram menyinari punggungnya yang ramping. Jemari tangannya yang halus menyusuri rambut Bima yang masih lembap oleh sampo, merasakan setiap helainya yang tebal dan sedikit kasar. Di bawah sentuhannya, Bima tertidur lelap, napasnya dalam dan teratur, wajahnya yang biasanya tegang kini terlihat lunak dan damai, sebuah ketenangan yang langka. Namun, di balik ketenangan itu, Calista bisa merasakan sisa-sisa ketegangan yang mengeras di pundaknya, sebuah beban yang dibawanya hingga ke dalam mimpi. Dia teringat pada pesan Indri siang tadi. Suasana hati Bima yang gelap pasti berkaitan dengan Rita. Dan tadi malam, saat mereka bersatu, tidak ada satu pun kata tentang itu. Calista sengaja menghindar, tak ingin menjadi sasaran pelampiasan ama

