58. Hadiah

1476 Kata

Pelayan itu membungkuk sedikit di ambang pintu ruang keluarga. "Tuan, suami Nona Lily sudah menunggu di ruang tamu." Ardha memalingkan wajahnya perlahan dari layar televisi yang sedang menayangkan berita olah raga. Sebuah senyum tipis muncul di sudut bibirnya yang keriput. "Suruh dia masuk." Ruangan itu terasa hangat oleh kayu gelap dan penerangan tersembunyi. Saat Bima melangkah masuk, dia berhenti sejenak, postur tubuhnya tegak namun terlihat sedikit kaku di tengah kemewahan yang menyelubungi ruangan itu. Ardha mematikan televisi dengan remote, lalu menatapnya. "Bima," sapa Ardha, suaranya parau namun hangat. Tangan keriputnya menunjuk ke sofa kulit cokelat di seberang kursi tunggalnya. "Duduklah. Sudah lama kita tidak berbicara." Bima mengangguk, lalu duduk di ujung sofa. Tangannya

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN