Bima pulang ke rumah sore itu setelah dari kediaman Ardha, mampir ke bengkel untuk pekerjaan yang menunggunya. Dia menuruti permintaan Calista yang tidak langsung mengkonfirmasi pertemuannya dengan sang istri. Jadi dia mendinginkan pikirannya lebih dulu dengan pekerjaan sekalian membahas perihal gedung yang akan dipakai dengan Juned. Sepi yang menyambutnya terasa berbeda, bukan ketenangan, melainkan kehampaan yang menusuk dan udara terasa berat. Dia mendapati kamar tidur mereka remang-remang, hanya diterangi lampu tidur temaram. Rita duduk di tepi ranjang, punggungnya membungkuk, tatapannya kosong menancap pada sebuah benda di atas sprei, amplop cokelat tebal yang tergeletak seperti sebuah tuduhan. Bima masuk tanpa kata, duduk di ujung ranjang yang sama, kasur berderak pelan. Rita meng

