Dina duduk di kursi cafe, jari-jarinya tak henti memilin tali gamisnya hingga kusut. Matanya yang biasanya teduh kini dipenuhi bayang-bayang kegelisahan. "Siapa wanita ini, Rita? Mengapa dia mau menjadikan Bima suaminya?" suaranya pecah, antara marah dan tak percaya. Rita menarik napas dalam, tangannya yang di atas meja mengepal pelan. "Ibu akan segera mengetahuinya." "Jadi benar ... uang itu darinya? Dan sebagai gantinya, dia meminta Bima untuk dijadikan suami?" Dina menggeleng-geleng, seperti mencoba mengusir kenyataan yang tak masuk akal. "Ini seperti mimpi buruk." Rita meraih tangan Dina, berusaha menenangkan. "Mas Bima tidak sepenuhnya bersalah di sini, Bu—" "Tentu wanita itulah biang keroknya!" Dina memotong, suaranya mendesis. "Dia pikir dengan uangnya bisa membeli segalanya, te

