149. Makan Malam yang Dingin-1

704 Kata

Hari itu Bella mengunjungi ayahnya di lapas. Setelah beberapa minggu absen, ia akhirnya bisa datang. Kepalanya masih terasa pusing sesekali, terutama jika terlalu lelah. Tapi kondisinya cukup baik. Dokter bilang gegar otak ringan butuh waktu untuk pulih sempurna. Bella tidak mau menunggu terlalu lama. Ia ingin segera kembali bekerja. "Bella." Irwan keluar dari pintu besi, langkahnya masih sedikit pincang, tangan terborgol di depan. Wajahnya berseri begitu melihat putrinya. Ia langsung menghampiri, duduk di kursi seberang Bella, matanya mengamati dari ujung rambut hingga ujung kaki. Bella tersenyum. "Papa sehat?" tanyanya, suara lembut. Irwan mengangguk cepat. "Kamu baik-baik saja, Nak?" Matanya terhenti di dahi Bella. "Bagaimana luka-lukamu? Lihat dahimu, ada bekas luka di sana." Tangan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN