116. Bahagia tak Terucap-1

701 Kata

"Lusa sidang, apa Kak Yuli belum bisa menemui Abby?" tanya Irwan. Suaranya pelan, nyaris tidak terdengar di balik kaca tebal yang memisahkan mereka. Wajahnya kusam, janggut mulai tumbuh tak terurus, matanya cekung. Hari-hari di dalam tahanan meninggalkan bekas yang tidak bisa disembunyikan. Desi dan Yulinar duduk di seberang, kursi besi dingin, lampu neon di atas berkedip-kedip. Yulinar melipat tangan di d**a, rahang mengeras. "Belum bertemu saja sudah ketakutan sama suaminya," balasnya dengan tatapan sebal. Desi diam sejak datang. Ia tidak bertanya, tidak juga berbicara dengan suaminya. Matanya ke bawah, ke meja besi yang mengilap, ke jari-jarinya sendiri yang menggenggam erat ujung baju. Ia sudah terlalu kecewa. Datang pun karena dipaksa Yulinar. Irwan yang minta ia datang. Irwan yang

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN