Pintu yang Terkunci.

1336 Kata
​Koridor lantai tiga gedung utama universitas sore itu terasa jauh lebih sunyi dari biasanya, seolah-olah seluruh aktivitas akademik sengaja menarik diri untuk memberikan ruang bagi takdir yang sedang berdenyut kencang di depan sebuah pintu kayu jati yang kokoh. Kairi Takemi berdiri mematung di sana, napasnya terasa pendek dan panas, meninggalkan uap tipis yang ia rasakan sendiri di balik bibirnya yang pucat. Tubuhnya masih mengirimkan sinyal-sinyal peringatan; rasa dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang beradu dengan gelombang panas demam yang membuatnya merasa seakan kepalanya sedang ditekan oleh beban tak kasat mata. Ia merapatkan pelukan pada draf skripsi di dadanya, kertas-kertas itu kini sedikit lembap karena keringat dingin yang terus merembes dari telapak tangannya. ​Dunianya terasa berputar. Setiap kali ia memejamkan mata untuk menghalau rasa pening, bayangan Lewis Jaydenson Takizaki yang sedang duduk di balik meja besarnya muncul seperti hantu yang menuntut kepatuhan. Kairi tahu bahwa di balik pintu ini, ada otoritas yang tidak mentoleransi kelemahan. Ia teringat betapa dinginnya suara pria itu semalam, betapa tegasnya perintahnya agar ia tidak mangkir, dan betapa tajamnya tatapan pria itu saat menguliti setiap kesalahan dalam argumen skripsinya. Rasa takut akan amarah Lewis terasa jauh lebih menyiksa daripada rasa sakit yang sedang menggerogoti tubuhnya. Ia tidak ingin dianggap sebagai mahasiswi yang mencari alasan melalui kondisi fisik; ia ingin terlihat tangguh, meskipun saat ini ia merasa dunianya sedang runtuh di setiap embusan napas yang berat. ​Lorong itu sepi, hanya ada suara detak jam dinding di kejauhan dan dengung halus dari sistem pendingin udara terpusat. Kairi menelan ludah, tenggorokannya terasa seperti terbakar. Ia merapikan kemeja putihnya yang sedikit kusut, mencoba mengumpulkan sisa-sisa harga diri yang ia miliki sebelum menghadapi sang penguasa akademik di balik pintu itu. Baginya, pintu jati itu bukan sekadar pembatas ruangan, melainkan ambang batas antara rasa aman yang rapuh dan ketidakpastian yang mendebarkan. ​Dengan jari-jari yang gemetar hebat, Kairi akhirnya mengangkat tangan. Suara ketukannya terdengar sangat lemah, nyaris tenggelam oleh degup jantungnya sendiri yang berdentum seperti genderang di dalam rongga dadanya. Ketukan pertama tidak mendapat jawaban. Ia menarik napas dalam, mencoba menahan rasa mual yang tiba-tiba menyerang. Ketukan kedua, ia memberikan sedikit tenaga lebih, meskipun gerakan sederhana itu membuatnya merasa seolah-olah kepalanya akan meledak oleh tekanan darah yang melonjak. ​"Masuk," suara berat dan bariton itu terdengar dari dalam, merambat melalui serat-serat kayu pintu, memberikan efek getaran yang membuat Kairi tersentak. Suara itu tidak mengandung keramahan; itu adalah perintah yang mutlak, sebuah panggilan yang tidak mengizinkan penundaan. ​Kairi memutar knop pintu dengan gerakan yang sangat pelan, seolah-olah ia sedang membuka gerbang menuju sebuah kuil yang sakral sekaligus berbahaya. Saat pintu itu terbuka, aroma kayu cendana yang mahal bercampur wangi kopi pahit dan aroma kertas tua langsung menyambut indra penciumannya yang sedang sangat sensitif. Ruangan itu luas, namun terasa sangat sesak karena aura dominan yang dipancarkan oleh penghuninya. Pencahayaan di dalam ruangan sengaja dibuat temaram, hanya menyisakan sorot lampu meja yang menyinari permukaan kerja sang dosen. ​Di balik meja kaca hitam yang luas, Lewis duduk dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, menampilkan urat-urat tangan yang kuat yang sedang memegang sebuah pena perak bermata emas. Pria itu tidak segera mengangkat wajahnya; ia tampak sibuk menandatangani beberapa dokumen administratif, membiarkan Kairi berdiri dalam ketidakpastian di ambang pintu, terjepit di antara keinginannya untuk lari dan kewajibannya untuk tetap tinggal. ​"Tutup pintunya, Kairi. Kamu membuat polusi masuk ke ruanganku," perintah Lewis tanpa menoleh sedikit pun. Matanya tetap terpaku pada dokumen di hadapannya, namun Kairi bisa merasakan bahwa pria itu sebenarnya sadar sepenuhnya akan kehadirannya. ​Kairi segera menuruti perintah itu. Ia mendorong pintu hingga tertutup rapat dengan bunyi klik yang halus. Namun, tepat saat ia hendak melangkah ragu-ragu menuju kursi di hadapan meja Lewis, sebuah suara mekanis yang tajam terdengar dari arah panel kendali di meja Lewis. Sebuah denting logam yang berat terdengar, diikuti suara desisan kecil pengunci otomatis yang berputar di dalam daun pintu, mengunci gerendel baja ke dalam bingkainya. ​Kairi membeku di tempatnya. Ia menoleh ke belakang dengan gerakan kaku, menatap ke arah pintu yang baru saja ia tutup. Di sana, lampu indikator kecil di atas gagang pintu yang biasanya berwarna hijau, kini berubah warna menjadi merah darah yang menyala tajam dalam keremangan ruangan. Lewis baru saja menekan tombol pengunci otomatis dari mejanya. Suara pengunci itu terdengar sangat final di telinga Kairi, seolah-olah dunia luar—dengan segala hiruk-pikuk kampus dan teman-temannya—baru saja dihapus dari keberadaannya. Ruangan yang tadinya hanya terasa privat kini mendadak berubah menjadi sebuah ruang isolasi yang mencekam, di mana satu-satunya hukum yang berlaku adalah kehendak pria di depannya. ​"Duduk," ucap Lewis lagi, kali ini ia mengangkat wajahnya perlahan. ​Kairi perlahan mendudukkan tubuhnya yang lemas di kursi kulit yang dingin. Ia merasa sangat kecil di bawah tatapan Lewis yang kini menguncinya dengan intensitas yang tidak biasa. Cahaya matahari sore yang menerobos melalui celah tirai jendela besar di belakang Lewis membuat siluet pria itu tampak semakin mengintimidasi; wajahnya sebagian tertutup bayangan, menyisakan kilatan mata yang sedingin obsidian namun menyimpan api yang sulit dijelaskan. ​Lewis tidak segera memulai pembahasan skripsi. Ia justru meletakkan penanya perlahan, suara denting logam pena yang beradu dengan meja kaca terdengar nyaring di tengah kesunyian. Ia menyandarkan punggungnya pada kursi kerja mewahnya, membiarkan sandaran kulit itu berderit pelan. Tangannya yang besar kini saling bertautan di atas meja, jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan kaca dengan ritme yang lambat dan penuh perhitungan, seperti detak jam yang menghitung mundur sesuatu. ​Kairi merasa udara di sekitarnya mendadak menjadi sangat tipis, seolah sistem ventilasi ruangan itu baru saja berhenti bekerja. Jantungnya yang sudah berpacu karena demam kini semakin tidak terkendali karena suasana yang terasa begitu intim sekaligus mengancam. Keringat dingin merembes dari pelipisnya, jatuh perlahan melewati pipinya yang panas. Lewis terus menatapnya, memperhatikan setiap detail terkecil: butiran keringat itu, napas Kairi yang sedikit tersengal, dan bagaimana tangan gadis itu mencengkeram tumpukan kertas revisi di pangkuannya hingga buku-buku jarinya memutih. ​Di ruangan yang terkunci itu, suara detak jam dinding seolah menjadi satu-satunya penghubung Kairi dengan kenyataan yang waras. Lewis tidak berbicara selama beberapa menit, ia seolah sengaja membiarkan kesunyian itu melucuti sisa-sisa keberanian Kairi. Ia sedang menikmati pemandangan di depannya—seorang mahasiswi yang biasanya tampak cerdas dan bersemangat, kini tampak begitu rapuh dan bertekuk lutut di wilayah kekuasaannya. ​"Kamu berbohong, Kairi," bisik Lewis akhirnya. Suaranya tidak keras, namun terdengar sangat dekat, merayap di kulit Kairi seolah pria itu sedang membisikkannya langsung di telinganya meskipun meja besar masih memisahkan mereka. "Kamu tidak sedang baik-baik saja. Kamu tampak seperti seseorang yang baru saja ditarik dari dasar sungai yang membeku." ​Kairi meremas pinggiran roknya di bawah meja, mencoba mencari pegangan pada realita. Rasa pening yang luar biasa kembali menyerangnya, membuat pandangannya goyah dan ruangan seolah-olah miring ke satu sisi. Ia merasa sesak napas, bukan hanya karena fisiknya yang lemah, tetapi karena ia menyadari bahwa Lewis Jaydenson Takizaki telah menguncinya di ruangan ini bukan untuk membahas penelitian kuantitatif atau metodologi yang rumit. Ada sesuatu yang jauh lebih gelap dan bersifat personal yang sedang direncanakan pria itu. ​Lewis berdiri dari kursinya. Gerakannya lambat namun penuh tenaga, seperti predator yang baru saja memutuskan bahwa saatnya untuk mengakhiri permainan kucing dan tikus ini. Ia melangkah memutar mejanya, langkah kakinya tidak bersuara di atas karpet tebal, namun Kairi bisa merasakan getaran kehadirannya yang semakin mendekat. Kairi hanya bisa terdiam, mematung di kursinya, matanya terpaku pada sepatu pantofel Lewis yang mengilat saat pria itu berhenti tepat di samping kursinya. ​Lampu indikator merah di pintu masih menyala, seolah-olah mengingatkan Kairi bahwa tidak ada bantuan yang akan datang. Di ruangan ini, di bawah bayang-bayang sang dosen Takizaki, Kairi menyadari bahwa pertahanannya telah runtuh sepenuhnya sebelum interogasi bahkan dimulai. ​"Sekarang," Lewis berkata dengan suara yang lebih dalam, "katakan padaku alasan sebenarnya mengapa kamu memaksakan diri datang ke sini dalam kondisi sehancur ini. Apakah kamu begitu takut padaku, atau kamu sebenarnya sangat merindukan perhatianku?" ​Pertanyaan itu menggantung di udara, tajam dan mematikan, meninggalkan Kairi dalam kebisuan yang menyesakkan sementara Lewis mulai menundukkan tubuhnya, menginvasi ruang pribadi gadis itu dengan aroma maskulin yang memabukkan dan mengintimidasi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN