Udara di koridor gedung Fakultas Ekonomi pagi itu terasa jauh lebih menggigit daripada biasanya, atau mungkin itu hanya perasaan Kairi Takemi saja. Gadis itu berjalan dengan langkah yang diseret, jemari tangannya yang mungil mencengkeram erat tali tas ranselnya yang sudah mulai pudar warnanya. Setiap langkah yang ia ambil terasa seberat timah, seolah-olah lantai marmer kampus yang dingin sedang berusaha menyedot sisa-sisa energi yang ia miliki. Kepalanya berdenyut dengan irama yang menyakitkan, sebuah simfoni rasa sakit yang berpangkal dari tengkuk hingga ke pelipisnya, membuat pandangannya sesekali mengabur dan berbayang.
Kairi berhenti sejenak, bersandar pada pilar beton besar di dekat pintu masuk ruang kuliah umum. Ia memejamkan mata, mencoba menstabilkan napasnya yang terasa panas dan berat. Di balik kelopak matanya, bayangan kejadian semalam terputar kembali seperti film usang yang menghantuinya. Ia teringat betapa dinginnya air hujan yang mengguyur tubuhnya, bagaimana ia berdiri di pinggir jalan dengan harapan yang hampir pupus, hingga sebuah mobil mewah berhenti di depannya dan mengubah segalanya. Aroma kayu cendana dan maskulinitas yang dingin dari kabin mobil Lewis Jaydenson Takizaki masih terasa menempel di indra penciumannya, sebuah memori yang membuatnya merasa sangat kecil sekaligus terlindungi dalam cara yang aneh dan menakutkan.
"Kairi? Ya ampun, wajahmu pucat sekali!" sebuah suara melengking memecah lamunannya.
Kairi membuka mata dengan susah payah, mendapati Shila, teman seangkatannya, berdiri di depannya dengan ekspresi khawatir yang sangat kentara. Shila segera meletakkan punggung tangannya di dahi Kairi, dan sedetik kemudian, ia memekik pelan.
"Kamu demam, Kai! Tubuhmu panas sekali, tapi kamu berkeringat dingin. Apa yang terjadi? Kamu kehujanan semalam?" Shila bertanya bertubi-tubi sambil menuntun Kairi untuk duduk di kursi panjang selasar.
Kairi hanya mampu mengangguk lemah. Ia tidak memiliki kekuatan untuk menjelaskan detail bagaimana ia bisa terjebak di tengah badai, apalagi menceritakan tentang Sang Dosen—Lewis yang mengantarnya pulang. Itu adalah rahasia yang ia kunci rapat di dasar hatinya; sebuah rahasia yang terasa terlalu berbahaya untuk dibagikan kepada siapa pun di kampus ini.
"Pulanglah, Kai. Aku serius," desak Shila lagi, matanya menyapu wajah Kairi yang kini benar-benar kehilangan warna, bibirnya yang biasanya kemerahan kini tampak keunguan dan pecah-pecah. "Kamu tidak akan bisa fokus di kelas. Lihat dirimu, kamu bahkan sulit untuk sekadar menegakkan kepala. Aku akan mintakan izin ke dosen pengampu jam pertama, mereka pasti mengerti kalau melihat kondisimu yang seperti mayat hidup begini."
Kairi menggelengkan kepala dengan gigih, meskipun gerakan itu membuat kepalanya semakin berputar hebat. "Tidak bisa, Shila. Aku ... aku punya jadwal bimbingan skripsi siang ini," bisiknya dengan suara yang serak dan hampir hilang.
"Bimbingan skripsi? Dengan siapa? Tunggu ... jangan bilang dengan Pak Lewis?" Shila menutup mulutnya dengan tangan, matanya membelalak. "Kai, kamu gila! Semua orang tahu Pak Lewis itu tidak punya hati. Kalau kamu datang dengan kondisi sakit begini, dia tidak akan peduli. Malah mungkin kamu akan dimarahi habis-habisan kalau konsentrasimu pecah saat dia bicara."
Mendengar nama Lewis disebut, jantung Kairi berdenyut nyeri. Rasa takut yang murni merayap di punggungnya. Ia teringat tatapan tajam pria itu semalam, tatapan yang seolah mampu menelanjangi setiap lapisan rahasia di dalam dirinya. Lewis adalah definisi kedisiplinan yang absolut. Bagi pria itu, tidak ada alasan untuk kegagalan, tidak ada ruang untuk kelemahan fisik. Kairi masih ingat bagaimana Lewis memandangnya dengan hinaan yang samar saat ia menggigil di jok mobilnya, seolah-olah kedinginan adalah sebuah kesalahan yang memalukan.
"Justru karena itu aku harus masuk," Kairi mencoba menjelaskan, napasnya tersengal. "Kamu tahu sendiri bagaimana dia. Jika aku mangkir hari ini, dia akan menganggapku tidak serius. Dia sudah memberiku peringatan keras minggu lalu tentang progres bab tigaku. Jika aku tidak datang membawa revisinya hari ini, aku takut dia akan mencoret namaku dari daftar bimbingannya."
"Tapi kamu sedang sakit, Kairi! Masuk angin itu bukan perkara sepele kalau sudah sampai demam tinggi begini. Pak Lewis itu manusia, bukan robot. Pasti dia punya sedikit rasa kasihan kalau kamu mengiriminya surat dokter," Shila mencoba memberikan logika yang masuk akal, namun di dunia Kairi, logika itu tidak berlaku jika berhadapan dengan seorang Takizaki.
Kairi memaksakan sebuah senyum tipis yang tampak menyedihkan. "Dia tidak mengenal kata kasihan, Shila. Baginya, tugas adalah tugas. Aku lebih baik pingsan di depan mejanya daripada harus menghadapi amarahnya karena dianggap tidak bertanggung jawab. Aku tidak mau dia marah lagi padaku ... aku tidak sanggup."
Rasa takut Kairi pada Lewis melampaui rasa sakit fisiknya. Ketegasan Lewis yang dingin telah menciptakan sebuah trauma kecil di benak Kairi, sebuah perasaan di mana ia merasa harus selalu sempurna agar tidak dihancurkan oleh pria itu. Namun di sisi lain, ada tarikan aneh yang membuat Kairi merasa bahwa bimbingan ini adalah satu-satunya cara baginya untuk kembali berada dalam jangkauan radar Lewis, meskipun itu artinya ia harus menderita.
Sepanjang pagi, Kairi menghabiskan waktunya di perpustakaan, mencoba mengistirahatkan tubuhnya di atas meja kayu yang keras sambil menunggu jam bimbingan tiba. Ia tidak masuk ke kelas jam pertama karena tubuhnya benar-benar menolak untuk bergerak, namun ia bersikeras tidak ingin pulang. Ia meminum air mineral yang sudah mulai hangat dan menelan sebutir obat penurun panas yang diberikan Shila, berharap keajaiban akan terjadi dan membuatnya tampak segar saat mengetuk pintu ruang kerja Profesor Lewis nanti.
Namun, kenyataannya justru sebaliknya. Semakin siang, kondisi Kairi semakin memburuk. Rasa mual mulai mengocok perutnya, dan setiap kali ia mencoba membaca kembali draf skripsinya, huruf-huruf di atas kertas itu seolah menari-nari dan mencemoohnya. Kairi menyandarkan punggungnya ke kursi perpustakaan yang sepi, menatap langit-langit dengan mata yang berkaca-kaca karena menahan sakit. Ia merasa tubuhnya sangat berat, seolah ada beban berton-ton yang menekan dadanya.
Ia membayangkan wajah Lewis—rahang yang tegas, mata yang tajam di balik kacamata, dan bibir yang jarang tersenyum. Apakah pria itu tahu bahwa mahasiswi yang ia tolong semalam kini sedang berjuang untuk sekadar bernapas? Apakah dia akan peduli? Kairi segera menepis pikiran itu. Tentu saja Lewis tidak akan peduli. Baginya, Kairi hanyalah satu dari sekian banyak mahasiswa yang harus ia urus, sebuah kewajiban akademis yang mungkin sebenarnya sangat ia benci.
Kairi melihat jam di dinding perpustakaan. Sepuluh menit lagi menuju waktu bimbingannya. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, ia berdiri, merapikan kemeja putihnya yang tampak terlalu longgar karena ia kehilangan sedikit berat badan akibat stres belakangan ini. Ia bercermin sejenak di kaca pintu perpustakaan, mencoba mencubit pipinya agar tampak sedikit lebih merona, namun hasilnya nihil. Ia tetap terlihat seperti hantu—pucat, rapuh, dan di ambang kehancuran.
Ia mulai melangkah menuju koridor lantai tiga, tempat ruangan Lewis berada. Setiap langkah yang ia ambil disertai dengan detak jantung yang berdebum kencang di telinganya. Rasa takut akan amarah Lewis bercampur dengan rasa sakit di tubuhnya menciptakan sebuah badai internal yang melumpuhkan. Ia terus merapalkan doa di dalam hati, memohon agar ia tidak pingsan sebelum sesi bimbingan itu selesai.
Koridor lantai tiga sangat sunyi, memberikan kesan eksklusif dan mencekam yang selalu menyertai keberadaan Lewis. Kairi berhenti di depan pintu kayu jati yang kokoh dengan papan nama perak bertuliskan Lewis J. Takizaki. Tangannya yang gemetar terangkat, ragu-ragu di udara. Ia bisa merasakan keringat dingin membasahi punggungnya, membuat kemejanya menempel di kulit. Ia benar-benar takut. Takut jika Lewis melihat kelemahannya sebagai sebuah penghinaan terhadap disiplin ilmu. Takut jika pertemuan mereka semalam justru akan membuat pria itu semakin keras padanya untuk menjaga jarak profesionalitas.
Kairi memejamkan mata, menarik napas panjang yang terasa menyayat tenggorokannya yang meradang. Ia harus masuk. Ia harus menghadapi pria itu, apa pun risikonya. Dengan keberanian yang dikumpulkan dari dasar keputusasaan, Kairi akhirnya mengetuk pintu itu. Bunyi ketukan yang lemah namun berirama itu seolah-olah menjadi tanda dimulainya sebuah babak baru dalam hidupnya yang tidak akan pernah ia duga—sebuah babak di mana rasa sakit fisiknya hanyalah pembuka bagi rasa sakit dan gairah yang jauh lebih dalam di tangan sang Dosen.
Di balik pintu itu, ia tahu Lewis sudah menunggunya dengan segala kedinginan dan dominasinya. Kairi tidak menyadari bahwa di dalam ruangan tersebut, Lewis juga sedang tidak fokus, menunggu kedatangannya dengan rasa haus yang mulai mengikis kewarasan sang profesor. Namun bagi Kairi, saat ini hanya ada satu hal yang penting: jangan biarkan Lewis marah. Jangan biarkan dia kecewa. Dan yang paling penting, jangan biarkan dia tahu betapa hancurnya pertahanan dirinya saat ini.